Telaga Sastra QHI

menemukan yang tiada .aku ada dalam ketiadaan (Qur'anul Hidayat Idris)

Selamat datang di blog Qur'anul HIdayat Idris, silahkan nikmati apa yang ada
Tampilkan postingan dengan label Telaga Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Telaga Puisi. Tampilkan semua postingan

Labuh

sepangku rindu menggenang
di atas perahu kota
tertambat merunut musim
tak tentu, entah kapan
berlabuh
di rahim rumah


QHI

Di Luar Hujan Menderas


Maghrib belum tiba
engkau melihat berupa burung terkantuk-kantuk
di beberapa dahan
jalanan menjadi isyarat kota ini tak pernah selesai
merekam jejak naluri manusiabinatang
sadar dan tak pernah jaga
seperti dua rupa yang tabrakan di depan kaca

Maghrib belum tiba
benar,
tapi hujan telah menderas di luar
sekumpulan air mata jadi banjir di ruang tengah
dan kamar-kamar penciptaan
semua lepas tak terderas
merekam jejak kota yang tak pernah selesai
sadar dan tak pernah menjadi manusia
binatang.

Maghrib
belum benar
tiba
ketika burung itu jatuh
tertembak neraka kota.


Bengkalis, 07 September 2011
Qur'anul Hidayat Idris


sumber gambar: klik di sini

SELEPAS SIANG


selepas siang
di bekas kita duduk
aku tak mau malam
ini terjaga lagi
dan mengingat
elegi rumah yang ditinggali tuan
ironisasi ketuhanan yang menjadi taman
tersebab berjalan dengan mata
adalah terang
maka, setelah siang
apalagi yang kita harapkan
dari malam?
sesajak Layla yang tak menemu berita
'sudahkah kau sembayangi lelahku?'

selepas siang
aku rindu
kita berjalan kaki
menuju rumah senja
yang tak kita beri nama

duh,

Semarang, 10 Juni 2011
Qur'anul Hidayat Idris

sumber gambar : klik di sini

BOLA


bicaralah lantang
aku dengar
tiada kesadaran
tumbuh
di tujuh hari
hati

jangan habiskan lauk di belanga
sebentar kubisikkan sesuatu
shuutt
"........
?


QHI
Semarang, 19 Mei 2011

HALO


hai, namaku di punggungmu
kutulis kemaren subuh

maka,
hilang namaku


Semarang, 16 Mei 2011
QHI

sumber gambar: klik di sini

KAMIKAH KAU?


ini juang bung
perjuangan kami
membelah anak bulan
menjadi bukan bulan lagi, besok
akan ada purnama di kertas ratap kami
kapal-kapal yang kami rakit, akan segera tumbuh
seperti katamu kemarin "kami bukan lagi kau, buat apa semua api, jika kau tak terbakar!"
tapi ini juang bung
kami yang terbakar
bukan kau

maka, kau tak bisa samakan kami
dengan air atau api(mu)
ini jendela
terbuka untukmu


Semarang, 08 Mei 2011
Qur'anul Hidayat Idris

sumber gambar: klik di sini

Sepahat Cakap di Ujung Kampus

tak ada bulan terbit di mata capung
pagi ini, sayang
sebab aku telah berhenti
untuk membaca
yang tak tertulis
untuk kemudian
laju, menjemput matahari
esok

tak ada purnama lagi,
sebab kita tak lagi lahir
di dada daun
tapi sebenar tiada
ketiada

ah, sayang
aku nyungsep di retorika
kau dan sepasang merpati

Cari

lama
kau enggan menenggak
datang
tiada

lama

QHI

Terima (lah)

separut hujan, tumbuh
dalam cakap dan pengap ratap
ada maaf yang ingin kukirimkan
di hatimu

maka, aku bertafakur
tengah hujan siang ini
tak ada bunga yang berkibar

terima
lah
karena aku
telah
berucap
ucap
salah
terima
lah
karena
tak ada
bulan
yang
lebih besar
dari
padang matamu
terimalah

maaf


Qur'anul Hidayat
15 April 2011

*ditulis dengan tafakur

Mari; berdoa


tiap terdiri
gelimpangan abuk di kedua sisi
menuai padi-padi di lubang telinga
menjadi kenari
mari berharap kepada sang ratap
tanam yang jahanam
benam di sekam

padi tumbuh
dari tubuh
penuh


Semarang, 18 Maret 2011
Qur'anul Hidayat Idris

sumber gambar : klik di sini

Gadis di Ujung Dermaga


tampak dia dengan airmata, melawan ombak
surutlah sepancang harapan di kapal, jauh
meninggalkan seutas hati yang kian retas
baginya menunggu adalah tanda ketiadaan
peniadaan, bukan semata pertemuan
pelaut di rahimnya, tertinggal di dermaga
lalu kisah ia tuntaskan bersama ombak
menjadi airmata


Semarang, 11 Maret 2011
Qur'anul Hidayat Idris

M A L A M -xx-


pilihan ada pada setiap zaman
berwarna apakah remang?
atau menjadi terang?
percintaan waktu senja mengajarkan tentang kesetiaan,
hilang begitu lekas
prematur menjemput dahi malam
dengan ciuman janggal
memiliki yang tiada
ada aku karena tiada
hiduplah pada masa
tua biarkan tua
menjengah matahari esok pagi
melihat, taman di zaman
bulan yang baru
serupa permen di saku bocah tepi jalan
atau setengah tiangnya kini jadi semakin labuh
lari tak terlari
kita tak sempat menyapa silam
terbentur masa depan

kutulis yang tiada
karena aku berada ada


Semarang, 09 Maret 2011
Qur'anul Hidayat Idris

Nb: puisi malam istirahat sampai angka xx, mencari kontemplasinya.

sumber gambar : klik di sini

M A L A M -xix-


kupu-kupu hinggap di wajahmu
telaga redup itu
bak bunga, mengaroma rima
selalu ada cara menatap helai jemari di buku-buku
diam senyap di aliran darah
warna yang tak pernah punah
untuk selanjutnya kucatat
kutenun lalu,
kupu-kupu di wajah
berenanglah sesukamu
suatu waktu kau tetaplah aku
kembali beredar meski gelap datang,
membumi buku jemarimu

akan kujerat
di langit wajahmu
kupu-kupu yang juga kau


Semarang, 09 Maret 2011
Qur'anul Hidayat Idris


sumber gambar : klik di sini

M A L A M -xviii-


mari kujerat warna dalam sayapmu
hitam di tiap kau mendelik
beterbangan mencari sepasar manis kehidupan
kita tak bersua dalam waktu lama
aku meriuh hinggap pada akar perindu
kembali dengan sepasang luka
di mataku kau tetaplah warna
hitam yang merah yang biru yang hijau
kuning
sayapmu tetap angin dari sauh penantian
melambaiku dari jauh
kita tak bertemu dalam waktu lama
kusimpan di langit-langit kamar
kita yang berada di puncak kenaifan
cinta itu buta kata orang
namun bukankah hatiku lebih terang?
melihatmu walau tak terlihat
merasaimu walau tak terasa
menjagamu walau tak terjaga

kujerat warna dalam kaca
kumasukkan dalam sangkar
ia memanggilku padamu
yang terbang meninggali padam
hitammu yang bening
menatap mataku yang semakin tak bermata

apa masih cinta itu buta.
atau aku yang membuta?


Semarang, 07 Maret 2011
Qur'anul Hidayat Idris

sumber gambar : klikdi sini


M A L A M -xvii-


angin menerjemahi gundah
selinap lesap dilinangan harap
tubuh penantianku rubuh di dus penolakan
terbuang beserta malam

angin berhembus pelan sekali
mengabutkan wajahku di kaca

aku terbuang dari ceruk matamu
yang rekat di simpang jemari
pengikatan


Semarang, 07 Maret 2011
Qur'anul Hidayat Idris

sumber gambar : klik di sini

M A L A M -xvi-


kau yang berwarna jingga
menemui jantungku yang haru
mengelebat dendam kusam
setanah langit menyirat pucat
adalah pukat di mulutmu
fona yang tak henti
menghantukku pada persaksian
keindahan langgam silam

beranjak
melupakan rentak marwas
dentang gambus
di rumah persaksian
aku telah lupa dengan segala umur
pergi ke dasar ketiadaan
menatap buku harian
perlincakan di dulang kehidupan

melupakan tarian 
gemulai dan pukau
anak-anak pertunjukan
aku meninggalkan kelana
dalam ketika malam
menghapus ketiadaan ragam


Semarang, 07 Maret 2011
Qur'anul Hidayat Idris

sumber gambar : klik di sini

M A L A M -xv-


kupahat kertas di atas meja, semata ingin tahu berapa anak bulan muncul
kuletakkan beberapa piring kegundahan di sebelah kanan
dan secawan kerinduan sebelah kiri
karena secara tiba-tiba bulan menghilang
malamku jadi benar gelap

aku terbiasa tidur dengan bulan-bulan kecil di dalam kertas
pergi menyauh atau memancing ikan di belakang rumah
kalau malam kubiarkan ia bermain ke langit kamar
sebagai bulan sebenarnya
aku nyenyak menemui berjuta anomali kehidupanku
berbelok

belok
bulan itu dari kertas di atas meja
kudapat ketika asyik memahat jejak bersama seorang wanita
Lin namanya
lalu bulan-bulan lain secara tiba muncul
dari puluhan anomali yang lain
berbelok

dan kini ketika aku kehilangan nama itu
bulan menjadi bulan
masuk kembali ke peraduan
aku kehilangan
puluhan anomali lain
kehidupan
berbelok




Semarang, 05 Maret 2011
Qur'anul Hidayat Idris

sumber gambar : klik di sini

M A L A M -xiv-


hitam matamu kurendam dalam tilam lalu sama-sama kita jadi angsa di pucuk pacak sungai, menjadi tubuh silam yang tak tercatat dalam buku sejarah. percintaan kita berlangsung dari malam ke malam, dari hitam ke hitam dari perendaman ke ratusan tilam.kita tak bisa bercerita kepada anak cucu tentang malam yang dulunya begitu hitam sepekat kopi tarak, sekarang yang mereka lihat tak ubah siang yang bernama malam.

hanya pada bekas masa silam akan hitam matamu yang kurendam dalam tilam aku mengingat bahwa malam tetaplah malam dalam talam darah, kau telah pula menjadi angsa penghuni sungai, remah di tengah kepucatan air hujan. aku tak mau mati, ingin mengatakan bahwa kita pernah ada.

"anak cucu kita semakin buta
tak nampak masa silam yang sisa
"




Semarang, 05 Maret 2011
Qur'anul Hidayat Idris

sumber gambar : klikdi sini

M A L A M -xiii-


aku berlari ke hutan melalui sungai melompati batu menjelajahi rawa teluk bahkan pesisir, matahari setengah tiang telah menggantung utuh pada juga setengah tubuhku, aku kini hanya memiliki perut dan kaki. kucari laut dalam kota tapi telah dilipat menjadi kertas poster di rumah-rumah, kucari di desa telah pula kering airnya. aku berlari ke hutan melalui alir alur kesunyian dan kekecewaan. telah binasa entah yang kau miliki di peti penyimpanan kemaluan, aku tersedak ketika melihat hutan tinggal jejak sepatu boots berukuran besar dan tangisan akar yang kehilangan batang. aku terus berlari memabawa matahari setengah tiang yang telah merenggut cinta seorang wanita, betapa kita memuja keindahan sampai ingin memasukkannya ke dalam dompet atau melelangnya dengan harga selangit.

kita menuju binasa, mereka tanya pada bintang jatuh lalu membuat permohonan, setelahnya kita sibuk bercinta dengan dogma dan mengalibikan idealisme. kucari terus yang tak kau cari, ku cari sampai ketemu apa yang tak ingin kau temui, kucari hutan lautan ikan-ikan kera-kera yang telah menempel di wajahmu, kau berubah menjadi apa yang kau makan, hei dimana kau menyimpan kotak berisi kemaluan?

aku hanya tinggal perut dan kaki, mengisi dan melangkah untuk tetap berdiri.


Semarang, 04 Maret 2011
Qur'anul Hidayat Idris

sumber gambar : klik di sini

M A L A M -xii-


setelah senja itu pindah ke rusuk mataku kau jadi begitu sering memandangku, mengajakku meniti areal kerinduan lalu berlarian di padang yang hanya kita berdua di sana. saban hari aku tersenyum karena kini tidaklah menjadi hal yang langka kita bersitatap dan bertukar pikiran hanya lewat senyum dan mengedipkan mata. kau juga sering datang ke rumah, membelikan kamarku tirai yang lebih bagus dan lebih tebal, katamu biar sewaktu malam matahari yang menggantung di separuh terbenam itu tidak membuat orang-orang di luar sana merasa aneh.

hari-hari di kamarku selalu gerah dan lembab, aku tak dapat merasakan lagi embun yang dulu sering kutasbihkan sebagai anak-anak malam. aku mulai kehilangan tubuhku, karena kini tidak lagi mataku yang memancarkan cahaya matahari setengah tiang itu, tapi juga kepala dan wajahku.

aku malu ketika kau mengetuk pintu pagi-pagi, tak seperti biasanya, aku tdak membukakanmu pintu kamar, kau menggedor semakin keras. aku selalu gagal menyembunyikan sesuatu padamu, kubukakan pintu kamar selebar aku membuka pintu hatiku.

demi yang tak tersentuh hingga yang hinggap pada lumbung perasaan kulihat kau melonjak-lonjak seperti bocah baru dibelikan sepeda. 
kau lebih memilih matahari setengah tiang itu daripada aku Lin?
kau mengangguk cepat

jika seperti itu adanya, keluarlah cepat dari hatiku, kan kukembalikan matahari ini ke lautan!


Semarang, 04 Maret 2011
Qur'anul Hidayat Idris

sumber gambar : klik di sini
Your pictures and fotos in a slideshow on MySpace, eBay, Facebook or your website!view all pictures of this slideshow